Antara Kesetiaan & Panggilan
Aku cemburu kepada Tuhan yang telah terlebih Dahulu meminangMu lewat selembar JUBAH
Aku mencintaimu, bahkan doaku tak pernah berubah. Selalu sama "Tuhan sudah yakin dia adalah orang terakhir untukku. Tidak ada yang lain lagi
Gadis itu beberapa kali menolak untuk dijodohkan. Ia tetap berpijak pada doanya. "Aku mau dia, titik!!" teriaknya sambil membanting daun pintu
Setianya tidak diragukan.
Waktu itu langit murung, daun-daun terlihat segar kembali saat rintik gerimis beristirahat diatas pundak-pundak ranting dan mengairi setiap lembaran daun itu.
Bunyi langkah seorang pria, mendekati gadis itu dan mencium keningnya sambil berkata "Aku harus berangkat hari ini. Aku distudikan di luar kota. Tunggu aku pulang.
Gadis itu hanya menunduk. Tapi berkat semangat dari sang kekasih, ia kembali bergairah "Aku bisa hidup karena kamu sudah bagian dari nafasku"
Beberapa tahun kemudian pria itu datang dan menemui gadis itu. "Aku mau nanti kamu datang ke gereja pada hari minggu"
Jawab gadis itu "Aku rinduuuuu, pastilah aku akan kesana" sambil memeluk erat kekasihnya
Sesampai di gereja, pria itu memakai jubah putih. Orang-orang memanggil pria itu Frater. "Hei, Om Frater" kata seorang anak kecil. Melihat itu gadis tersebut langsung lemas dan menangis.
Sang kekasih langsung merangkulnya "Maafkan aku... Ini pilihan"
Gadis itu terseduh dan membenamkan wajahnya dibahu bidang yang dibungkus jubah tersebut.
"Kenapa? Kenapa kau ubah takdir dan melukai hatiku. Aku setia untukmu. Aku berdoa siang dan malam berharap kamu akan menjadi orang terakhir.Kenapa!!!?????? Jawab!!!" bentak gadis itu. Semua mata tertuju pada mereka
Gadis itu menitik air mata dan berdoa "Tuhan, kenapa kau meminangnya dengan selembar doa. Aku menginginkannya janganlah engkau ambil dia dari genggaman doa dan harapanku. Aku benci jika suatu saat ia menjadi berbaring diatas altarmu bersumpah setia atas panggilan!
Tapi gadis itu tak putus asa, dia yakin pria itu adalah jodohnya. Bahkan tak pernah hiraukan perintah keluarganya agar mencari lelaki lain. Baginya setia itu adalah kasta tertinggi dalam urusan cinta.
5tahun semenjak berkenalan, akhirnya ia menyaksikan penahbisan sang kekasih menjadi seorang Imam. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata dalam hatinya.
"Sayang, engkau tampan sekali mengenakan jubah itu, gagah, terlihat bak seorang raja. Aku cemburu kepada Tuhan yang tetap bersikeras meminangmu lewat selembar jubah"
Gadis itu tabah... Sampai pada suatu ketika dia divonis oleh kanker otak. Ia lupa segala-galanya. Dan diakhir hayatnya harus menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan penuh cinta. Setia!
Di upacara pemakaman pria itu bersaksi menjadi imam atau pastor. Ia tak kuat sebenarnya memimpin upacara ekaristi. Aku sudah berjanji, Aku datang untukmu. Apapun keadaanmu, sekalipun terbaring menjadi jasad. Mencintai tak harus memiliki. Katanya, " Maafkan aku sayang, diakhir terakhirmu aku hanya menjadi seorang imam untuk menberkatimu...
******* S E L E S A I *******
By : T_Mataranto
Komentar
Posting Komentar